
Jakarta, Indotrans.web.id || – Roket raksasa New Glenn milik perusahaan antariksa Blue Origin mengalami ledakan hebat saat menjalani uji pembakaran statis (hot fire test) di Cape Canaveral Space Force Station, Florida, Kamis malam (28/5/2026) waktu setempat.
Insiden tersebut terjadi ketika tim Blue Origin melakukan pengujian mesin sebagai bagian dari persiapan peluncuran misi berikutnya. Dalam proses hot fire test, mesin roket dinyalakan dalam kondisi roket tetap terikat di landasan peluncuran untuk memastikan seluruh sistem bekerja normal sebelum penerbangan. Namun, beberapa saat setelah mesin menyala, roket justru meledak dan memunculkan bola api raksasa yang menerangi langit Florida.
Rekaman video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan kobaran api besar dan awan asap pekat membumbung tinggi dari area Launch Complex 36. Ledakan tersebut bahkan dilaporkan terasa hingga ke sejumlah kawasan sekitar Cape Canaveral dan Cocoa Beach.
Blue Origin mengonfirmasi insiden tersebut dan menyebutnya sebagai sebuah “anomali” yang terjadi saat proses pengujian berlangsung. Perusahaan memastikan seluruh personel yang berada di lokasi berhasil dievakuasi dan tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam peristiwa tersebut.
Pendiri Blue Origin, Jeff Bezos, juga memberikan pernyataan melalui media sosial. Ia mengakui kejadian tersebut merupakan hari yang berat bagi perusahaan, namun menegaskan Blue Origin akan melakukan investigasi menyeluruh dan membangun kembali fasilitas maupun sistem yang mengalami kerusakan.
“Masih terlalu dini untuk mengetahui penyebab utamanya, tetapi kami sudah mulai bekerja untuk mencari jawabannya. Ini hari yang sangat berat, namun kami akan membangun kembali apa pun yang perlu dibangun dan kembali terbang,” tulis Bezos.
Insiden ini menjadi pukulan besar bagi ambisi Blue Origin yang selama beberapa tahun terakhir berupaya mengejar dominasi SpaceX dalam industri peluncuran antariksa komersial. New Glenn merupakan roket andalan Blue Origin yang dikembangkan lebih dari satu dekade dengan investasi bernilai miliaran dolar. Roket setinggi hampir 100 meter tersebut diproyeksikan menjadi pesaing utama Falcon Heavy dan Starship milik SpaceX.
Saat ledakan terjadi, New Glenn sebenarnya sedang dipersiapkan untuk misi peluncuran berikutnya yang dijadwalkan membawa 48 satelit internet milik Amazon dalam proyek Project Kuiper. Program tersebut merupakan upaya Amazon membangun jaringan internet satelit global yang akan bersaing langsung dengan layanan Starlink milik SpaceX. Beruntung, satelit-satelit tersebut belum berada di dalam roket saat pengujian dilakukan.
Kecelakaan ini juga berpotensi memengaruhi sejumlah proyek strategis Blue Origin bersama NASA. Sebelumnya, perusahaan tersebut mendapat berbagai kontrak penting dalam program eksplorasi bulan Artemis, termasuk pengembangan sistem pendaratan bulan dan infrastruktur pendukung misi luar angkasa masa depan Amerika Serikat.
Di tengah ramainya pemberitaan mengenai ledakan tersebut, CEO SpaceX, Elon Musk, turut menyampaikan simpati kepada Bezos. Musk menyebut pengembangan teknologi roket merupakan pekerjaan yang sangat kompleks dan penuh risiko, sehingga kegagalan menjadi bagian dari proses pengembangan industri antariksa.
Saat ini Blue Origin bersama pihak terkait, termasuk otoritas penerbangan dan tim teknis peluncuran, masih melakukan investigasi untuk mengetahui penyebab pasti ledakan. Belum diketahui berapa lama program New Glenn akan tertunda akibat insiden tersebut, namun banyak analis menilai kejadian ini dapat memperlambat langkah Blue Origin dalam persaingan antariksa global yang saat ini masih didominasi SpaceX. (LS)
