Ekonomi Nasional
Beranda » Blog » Produksi Nikel Ditekan, Ekspor RI Diproyeksi US$39,7 Miliar

Produksi Nikel Ditekan, Ekspor RI Diproyeksi US$39,7 Miliar

Aktivitas pertambangan dan pengolahan bijih nikel di Indonesia dalam konteks pengendalian produksi dan peningkatan nilai ekspor.
Pengendalian produksi nikel melalui RKAB pada 2026 disebut turut mendukung kenaikan harga dan nilai ekspor nikel Indonesia. Foto ilustrasi pertambangan atau pengolahan nikel.

Jakarta, Indotrans.web.id  — Pengendalian produksi nikel melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pada 2026 disebut mendorong kenaikan harga nikel sekaligus meningkatkan nilai ekspor Indonesia. Dewan Ekonomi Nasional (DEN) mencatat, kenaikan harga di pasar global terjadi meskipun volume ekspor nikel Indonesia mengalami penurunan.

Berdasarkan data DEN yang dikutip CNBC Indonesia, rata-rata harga nikel di London Metal Exchange (LME) selama Januari hingga Agustus 2026 mencapai US$17.494 per ton. Angka tersebut meningkat 15% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Anggota sekaligus Sekretaris Eksekutif DEN, Septian Hario Seto, menyatakan bahwa nilai ekspor nikel Indonesia hingga Agustus 2026 meningkat sekitar 17%, meskipun volumenya turun sekitar 4%.

“Sehingga ekspor nikel sampai dengan Agustus 2026 naik sekitar 17%, meskipun volume turun sekitar 4%. Hal ini menandakan pengendalian RKAB mencapai dua tujuan utama yaitu konservasi cadangan dan pada saat yang bersamaan juga meningkatkan nilai tambah ekspor,” ungkap Seto, dikutip pada Kamis (22/10/2026).

Harga Nikel Naik, Nilai Ekspor Ikut Menguat

Pengendalian produksi melalui RKAB menjadi salah satu kebijakan yang disorot dalam perkembangan industri nikel Indonesia pada 2026. Menurut DEN, penyesuaian pasokan tersebut berlangsung bersamaan dengan kenaikan harga nikel di pasar internasional.

Rupiah Melemah ke Rp17.985, BI Ungkap 3 Faktor Pemicunya

Seto menjelaskan bahwa pembatasan produksi turut meningkatkan posisi tawar produk nikel Indonesia. Salah satu indikator yang disampaikan adalah penyempitan diskon harga Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), yaitu produk antara dari pengolahan bijih nikel laterit, terhadap harga acuan LME.

Diskon harga MHP tersebut tercatat menyempit dari 21% pada 2024 menjadi 10% pada 2026. Perubahan ini menunjukkan bahwa selisih harga produk tersebut terhadap acuan LME semakin kecil.

Ekspor Nikel Diproyeksikan Capai US$39,7 Miliar

DEN juga memperkirakan nilai ekspor nikel Indonesia akan mencapai US$39,7 miliar sepanjang 2026. Nilai tersebut diproyeksikan meningkat 28% dibandingkan 2024, sementara volume ekspor diperkirakan hanya bertambah 13%.

“Nilai tambah meningkat: ekspor nikel diproyeksikan mencapai US$39,7 miliar pada 2026, naik 28% dari 2024, sementara volumenya hanya naik hanya 13%,” tegas Seto.

Proyeksi tersebut menggambarkan potensi peningkatan nilai ekspor yang lebih besar dibandingkan pertumbuhan volumenya. Namun, angka US$39,7 miliar tersebut masih berupa proyeksi untuk keseluruhan 2026, bukan realisasi akhir tahun.

Dua Kali Absen dari KPK, Nusron Wahid Hadiri Sidang Kabinet Prabowo

Penerimaan Negara dari Nikel Berpotensi Melampaui Target

Selain nilai ekspor, pengendalian produksi dan penyesuaian harga acuan mineral juga disebut berpotensi meningkatkan penerimaan negara dari sektor nikel.

Seto menyampaikan bahwa penyesuaian Harga Patokan Mineral (HPM) yang berlaku sejak April 2026 meningkatkan penerimaan negara dari bijih nikel jenis saprolit.

Atas perkembangan tersebut, DEN memperkirakan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari subsektor nikel berpotensi melampaui target yang ditetapkan untuk 2026.

Meski demikian, besaran realisasi penerimaan negara dan perbandingannya dengan target tahunan masih perlu dilihat berdasarkan data resmi pemerintah setelah periode pelaporan berakhir.

Indonesia Berperan Penting dalam Pasokan Nikel Dunia

Seto menekankan pentingnya menjaga keseimbangan pasokan nikel global karena Indonesia merupakan produsen sekitar dua pertiga pasokan nikel dunia, berdasarkan pernyataan yang dikutip dalam bahan berita.

Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp4.000, Kini Rp2,55 Juta per Gram

Menurutnya, pengendalian pasokan diperlukan untuk mengurangi risiko kelebihan pasokan atau oversupply yang dapat menekan harga di pasar internasional.

Kebijakan RKAB pun menjadi salah satu faktor yang diperhatikan dalam perkembangan industri nikel Indonesia. Dampaknya terhadap harga, nilai ekspor, konservasi cadangan, dan penerimaan negara akan bergantung pada kondisi pasar global serta realisasi produksi dan ekspor sepanjang 2026.

(sps/sps)

Related Posts

× Advertisement
× Advertisement