Ekonomi Nasional
Beranda » Blog » IHSG Hari Ini Dibuka Menguat 0,06% Jelang Keputusan The Fed

IHSG Hari Ini Dibuka Menguat 0,06% Jelang Keputusan The Fed

Layar pergerakan IHSG hari ini yang dibuka menguat tipis ke level 5.442,30 di Bursa Efek Indonesia.
Ilustrasi papan informasi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. IHSG hari ini dibuka menguat terbatas 0,06 persen ke posisi 5.442,30 pada Senin (26/10/2026) pagi.

JAKARTA, Indotrans.web.id — Pergerakan IHSG hari ini mengawali perdagangan awal pekan di zona hijau. Pada pembukaan sesi I, Senin (26/10/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik tipis 3,04 poin atau sekitar 0,06 persen ke level 5.442,30 dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di posisi 5.439,26.

Sejak pembukaan perdagangan pagi, laju indeks terpantau bergerak dalam rentang terbatas. IHSG sempat menyentuh posisi tertinggi di level 5.449,35 dan bergerak ke level terendah di posisi 5.438,75. Adapun aktivitas perdagangan di awal sesi mencatatkan volume transaksi sebesar 5,23 juta lot dengan nilai transaksi sekitar Rp244,76 miliar.

Penguatan terbatas IHSG hari ini terjadi di tengah padatnya agenda ekonomi global dan domestik sepanjang pekan terakhir Oktober 2026. Selain perkembangan konflik geopolitik yang masih menjadi penggerak utama pasar, investor juga bersiap menghadapi pengumuman kebijakan moneter dari tujuh bank sentral dunia serta rilis data makroekonomi Amerika Serikat (AS), China, dan Eropa yang akan memengaruhi pasar saham, obligasi, valuta asing, hingga komoditas.

Tujuh bank sentral yang dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga pada pekan ini meliputi:

  • 26 Oktober 2026: State Bank of Pakistan.

  • 28 Oktober 2026: Federal Reserve (The Fed) AS, Bank of Canada, Reserve Bank of New Zealand, dan Bank of Thailand.

  • 29 Oktober 2026: European Central Bank (ECB).

  • 30 Oktober 2026: Bank of Japan (BOJ).

Berikut adalah rincian delapan agenda ekonomi utama yang menjadi sorotan pelaku pasar sepanjang pekan ini:

Penyaluran KPR BTN Capai Rp552 Triliun di Kuartal III 2026

1. Sidang Pleno Kelima Partai Komunis China dan Data Laba Industri

Agenda pertama berasal dari China yang menggelar Sidang Pleno Kelima Komite Sentral Partai Komunis China (Communist Party Fifth Plenum) pada 26–29 Oktober 2026. Pertemuan strategis ini membahas arah kebijakan politik, ekonomi, industri, teknologi, dan pembangunan negara untuk beberapa tahun ke depan.

Swasembada Pangan 8 Komoditas Tercapai di 2 Tahun Prabowo

Pasar global menyoroti sidang ini karena dapat memberikan sinyal terkait konsolidasi kekuasaan Presiden Xi Jinping, penguatan pemberantasan korupsi, serta prioritas pemerintahan menjelang 2027. Hasil pertemuan tersebut krusial bagi investor untuk membaca kepastian regulasi, iklim bisnis, dan prospek ekonomi China yang berdampak langsung pada pasar saham, nilai tukar yuan, harga komoditas, serta negara mitra dagang seperti Indonesia.

Selain agenda politik, China juga akan merilis data laba industri periode Januari–September 2026 pada Selasa (27/10) pukul 08.30 WIB. Sebagai perbandingan, laba industri China pada periode Januari–Agustus tumbuh 15,7 persen secara tahunan (year-on-year/YoY), melambat dibandingkan periode Januari–Juli yang tercatat 17,6 persen. Apabila perlambatan berlanjut, prospek permintaan komoditas berisiko tertekan. Sebaliknya, penguatan laba industri akan menjadi sinyal positif bagi perbaikan aktivitas manufaktur dan investasi di negara tersebut.

2. Keputusan Suku Bunga The Fed, Data PDB, dan Inflasi PCE Amerika Serikat

Dari Amerika Serikat, perhatian utama pasar tertuju pada pengumuman keputusan suku bunga The Fed pada Rabu waktu setempat atau Kamis (29/10) pukul 01.00 WIB, yang dilanjutkan dengan konferensi pers pada pukul 01.30 WIB. Konsensus pasar memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75 persen hingga 4,00 persen, setelah menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September lalu.

Kendati suku bunga diprediksi tetap, pelaku pasar akan mencermati pernyataan Ketua The Fed, Kevin Warsh, terkait prospek inflasi, kondisi pasar tenaga kerja, dan potensi pengetatan moneter berikutnya. Sikap yang lebih ketat (hawkish) berpotensi mengangkat dolar AS dan menekan aset berisiko di negara berkembang, termasuk pergerakan rupiah, arus modal asing, dan daya tarik Surat Berharga Negara (SBN) di Indonesia.

Masih di hari yang sama, Kamis (29/10) pukul 19.30 WIB, AS dijadwalkan merilis dua data ekonomi penting sekaligus:

Rekomendasi Saham Pekan Ini dan Proyeksi IHSG Akhir Oktober

  • Estimasi Awal PDB Kuartal III-2026: Ekonomi AS diperkirakan tumbuh 3,2 persen secara kuartalan dalam hitungan tahunan (annualized), meningkat dari 2,2 persen pada kuartal sebelumnya. Pertumbuhan yang kuat memang menegaskan ketahanan ekonomi AS, tetapi jika dibarengi inflasi tinggi, ekspektasi suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama berpotensi menguat.

  • Inflasi PCE September 2026: Indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) merupakan indikator acuan utama The Fed. Inflasi PCE inti—di luar komponen makanan dan energi—diproyeksikan naik 0,3 persen secara bulanan (month-on-month) pada September 2026 dari 0,2 persen pada Agustus. Secara tahunan (YoY), inflasi PCE inti diperkirakan naik menjadi 3,1 persen dari posisi Agustus yang sebesar 3,0 persen (sementara inflasi PCE umum Agustus tercatat 3,4 persen YoY). Realisasi inflasi di atas ekspektasi dapat memicu kekhawatiran pasar terhadap berlanjutnya kebijakan suku bunga tinggi.

3. Kebijakan Moneter ECB, BOJ, dan Pertumbuhan Ekonomi Zona Euro

Agenda padat pekan ini akan ditutup oleh rangkaian keputusan bank sentral dan data ekonomi dari kawasan Eropa serta Jepang:

  • Keputusan Suku Bunga ECB (Kamis, 29/10 pukul 20.15 WIB): Diikuti konferensi pers pukul 20.45 WIB. Konsensus pasar memperkirakan ECB mempertahankan suku bunga operasi pembiayaan utama di level 2,65 persen dan suku bunga fasilitas simpanan di 2,50 persen. Pasar akan memantau cara ECB menyeimbangkan risiko inflasi akibat tekanan harga energi dengan perlambatan ekonomi kawasan Eropa.

  • Keputusan Suku Bunga BOJ (Jumat, 30/10): Konsensus memperkirakan Bank Sentral Jepang mempertahankan suku bunga di level 1,25 persen, usai menaikkan bunga dari 1,00 persen pada September lalu. Investor juga menantikan laporan prospek ekonomi, proyeksi inflasi, serta penilaian BOJ terhadap perkembangan upah dan konsumsi domestik.

  • Estimasi Awal PDB Zona Euro Kuartal III-2026 (Jumat, 30/10 pukul 17.00 WIB): Pertumbuhan ekonomi kawasan euro diperkirakan melambat menjadi 0,2 persen secara kuartalan (dari 0,6 persen pada kuartal sebelumnya). Secara tahunan, PDB zona euro diproyeksikan tumbuh 1,1 persen, turun dari 1,2 persen. Perlambatan yang lebih tajam dapat menambah kekhawatiran atas prospek ekonomi Eropa dan memengaruhi langkah kebijakan ECB selanjutnya.

(sps/sps)

× Advertisement
× Advertisement