Jakarta, Indotrans.web.id – Harga emas dunia kembali melemah setelah dolar Amerika Serikat menguat dan imbal hasil obligasi pemerintah AS naik.
Investor kini menunggu keputusan suku bunga Federal Reserve atau The Fed pada pekan depan. Pasar memperkirakan bank sentral AS masih akan mempertahankan suku bunga untuk sementara waktu.
Mengacu pada data Refinitiv, harga emas pada perdagangan Senin, 19 Oktober 2026, ditutup di level US$4.139,67 per troy ounce. Angka tersebut turun 0,61% dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Penurunan itu menjadi pelemahan emas selama dua hari berturut-turut.
Pada Selasa, 20 Oktober 2026 pukul 06.47 WIB, harga emas kembali turun 0,13% ke posisi US$4.134,33 per troy ounce.
Dolar AS dan yield obligasi menekan harga emas
Salah satu faktor yang membuat emas tertekan adalah penguatan indeks dolar AS. Indeks dolar tercatat naik tipis ke level 101,98.
Ketika dolar menguat, emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang selain dolar AS. Kondisi ini biasanya dapat mengurangi minat beli terhadap emas.
Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun naik ke level 5,14%. Yield yang tinggi membuat obligasi terlihat lebih menarik bagi investor karena dapat memberikan imbal hasil secara rutin.
Sementara itu, emas tidak memberikan bunga atau imbal hasil tetap. Emas lebih sering digunakan sebagai aset pelindung nilai ketika inflasi dan ketidakpastian ekonomi meningkat.
Pasar menunggu arah kebijakan The Fed
Analis pasar Forex.com, Fawad Razaqzada, menilai kenaikan yield obligasi dipengaruhi oleh kekhawatiran bahwa bank sentral AS masih perlu memperketat kebijakan untuk mengendalikan inflasi.
Menurutnya, investor tidak hanya mencermati keputusan suku bunga The Fed, tetapi juga memperhatikan nada pernyataan para pejabat bank sentral.
Jika The Fed menyampaikan pernyataan yang lebih hawkish atau cenderung mendukung kebijakan suku bunga tinggi, harga emas berpotensi kembali mendapat tekanan dalam jangka pendek.
The Fed sebelumnya menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September 2026. Kenaikan tersebut menjadi yang pertama dilakukan bank sentral AS sepanjang tahun ini.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada bulan ini mencapai 82,8%. Sementara itu, peluang kenaikan suku bunga pada Desember diperkirakan berada di level 90%.
Data inflasi AS ikut menjadi perhatian
Selain keputusan suku bunga, investor juga menunggu data Personal Consumption Expenditures atau PCE Amerika Serikat.
PCE merupakan salah satu indikator inflasi penting yang digunakan The Fed dalam menentukan arah kebijakan moneternya.
Jika data menunjukkan inflasi masih tinggi, pasar dapat kembali memperkirakan suku bunga AS akan bertahan di level tinggi lebih lama. Situasi tersebut berpotensi memberikan tekanan tambahan bagi harga emas.
Sebaliknya, jika inflasi mulai melandai, emas bisa kembali menarik perhatian investor karena peluang penurunan suku bunga dapat meningkat.
Level penting harga emas
Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank, Ole Hansen, memperkirakan area US$4.235 per troy ounce menjadi level resistensi penting bagi emas.
Sementara itu, level dukungan utama berada di bawah US$4.100 per troy ounce.
Jika harga emas mampu menembus level resistensi, peluang penguatan lanjutan dapat terbuka. Namun, apabila harga turun di bawah level dukungan, tekanan jual berpotensi semakin besar.
Harga perak justru menguat
Berbeda dengan emas, harga perak justru mencatat kinerja positif.
Berdasarkan data Refinitiv, harga perak ditutup naik 0,14% ke level US$57,09 per troy ounce pada perdagangan Senin, 19 Oktober 2026.
Penguatan tersebut menjadi kabar positif setelah harga perak sebelumnya turun 0,8% pada Jumat pekan sebelumnya.
Pergerakan harga emas dan perak selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh arah dolar AS, yield obligasi, data inflasi, serta keputusan dan pernyataan terbaru dari The Fed.
