Jakarta, Indotrans.web.id – Presiden Prabowo Subianto meminta Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan pengembangan lahan pertanian untuk meningkatkan produksi pangan nasional tidak dilakukan dengan membuka hutan primer.
Pemerintah berencana mengembangkan lahan rawa mineral hingga 2 juta hektare (ha). Pada tahap awal, penggarapan akan difokuskan pada 500 ribu ha lahan yang disiapkan untuk menanam berbagai komoditas pangan, termasuk beras, jagung, dan kedelai.
Arahan tersebut disampaikan Prabowo saat Sidang Kabinet Paripurna, Jumat (23/10/2026), ketika Amran memaparkan rencana penambahan lahan pertanian. Dalam kesempatan itu, Prabowo meminta kepastian bahwa perluasan lahan tidak akan dilakukan dengan membuka hutan primer.
“Jadi kita tidak akan buka hutan primer untuk produksi pangan kita selanjutnya kita tidak perlu buka hutan primer?” tanya Prabowo kepada Amran, sebagaimana disiarkan melalui akun YouTube Sekretariat Presiden.
“Siap, tidak Bapak Presiden,” jawab Amran.
Prabowo kemudian merespons, “Bagus”.
Pemerintah Siapkan 500 Ribu Hektare pada Tahap Awal
Dalam paparannya, Amran menjelaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan rencana penggarapan lahan rawa mineral dengan total target pengembangan hingga 2 juta ha.
Pada tahap pertama, pemerintah akan menggarap 500 ribu ha lahan bersama TNI dan Kementerian Pertahanan (Kemenhan). Amran menegaskan lahan yang disiapkan bukan merupakan lahan gambut.
Lahan tersebut direncanakan untuk menanam berbagai komoditas pangan yang dibutuhkan masyarakat dalam negeri. Komoditas yang disebutkan meliputi beras, jagung, dan kedelai, dengan prioritas pada tanaman yang produksinya masih belum mencukupi kebutuhan nasional.
“Beras, jagung, kedelai, apa saja tanaman pangan yang kita butuhkan itu kita tanam. Jadi, yang mana minus, ini yang kita tanam nanti ke depan,” jelas Amran.
Ia juga menegaskan bahwa rencana pengembangan lahan pangan tersebut berbeda dari program pengembangan lahan untuk produksi etanol.
Potensi Lahan Rawa Mineral Tersebar di 20 Provinsi
Berdasarkan peta yang dipaparkan dalam sidang kabinet, potensi lahan rawa mineral di Indonesia mencapai 2.078.756 ha yang tersebar di 20 provinsi.
Sumatera Selatan tercatat memiliki potensi lahan terbesar, yakni 375.006 ha. Berikutnya, Kalimantan Tengah memiliki potensi 356.276 ha dan Kalimantan Selatan mencapai 335.179 ha.
Sejumlah provinsi lain di Kalimantan juga memiliki potensi lahan yang cukup luas. Kalimantan Barat tercatat memiliki 165.881 ha, sedangkan Kalimantan Timur mencapai 162.833 ha.
Di wilayah Sumatera, potensi lahan rawa mineral meliputi Aceh seluas 97.524 ha, Riau 92.904 ha, Sumatera Utara 92.068 ha, Lampung 96.079 ha, dan Jambi 85.837 ha.
Sementara itu, Papua Selatan memiliki potensi lahan 74.906 ha dan Kalimantan Utara 60.518 ha. Potensi lainnya tersebar di Sumatera Barat seluas 19.982 ha, Kepulauan Bangka Belitung 13.255 ha, Kepulauan Riau 13.173 ha, Papua Tengah 16.566 ha, Papua 6.899 ha, Papua Barat 5.436 ha, Papua Barat Daya 5.381 ha, serta Bengkulu 3.052 ha.
Data tersebut menjadi dasar pemetaan potensi lahan yang disiapkan pemerintah untuk mendukung rencana pengembangan pertanian nasional.
Targetkan Produksi Pangan untuk Kebutuhan Masa Depan
Amran menyampaikan bahwa penggarapan lahan akan dimulai dari tahap awal seluas 500 ribu ha yang telah dibahas bersama TNI.
Menurutnya, pengembangan lahan hingga 2 juta ha diharapkan dapat memperkuat kemampuan produksi pangan Indonesia dalam jangka panjang.
Ia menyebut program tersebut ditujukan untuk meningkatkan kapasitas produksi pangan nasional agar mampu memenuhi kebutuhan penduduk Indonesia yang diproyeksikan mencapai 500 juta orang pada masa mendatang.
Meski demikian, pelaksanaan program akan mengikuti rencana penggarapan yang telah disiapkan pemerintah, dengan arahan Presiden agar perluasan lahan pangan tidak dilakukan melalui pembukaan hutan primer.
(sps/sps)
