
Aceh Timur ,Indotrans .Web Id ||. – Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Timur Murhaban.menjelaskan , mereka mencatat sebanyak 41 bangunan puskesmas dan pondok bersalin desa (polindes) yang tersebar di sejumlah kecamatan di daerah itu rusak berat akibat terkena banjir akhir desember 2025
Ia menyatakan, dampak dan kerusakan yang terjadi bervariasi, ada ruang pelayanan terendam, rusaknya peralatan medis, hingga terganggunya sistem listrik dan air bersih serta lainnya.
Dari 41 puskesmas tersebut sebanyak lima di antaranya mengalami rusak berat yakni di Kecamatan Lokop, Kecamatan Serbajadi, Kecamatan Peunaron, Kecamatan Ranto Pereulak, Kecamatan Pante Bidari, dan Kecamatan Matang Pudeng.
“Kondisi puskesmas di lima kecamatan tersebut tidak dapat berfungsi karena tertimbun lumpur tebal serta tumpukan kayu besar yang terseret banjir,” kata Murhaban.
Ia mengatakan, tenaga kesehatan menyesuaikan dengan kondisi tersebut, diantaranya membuka layanan darurat atau mengalihkan sementara pelayanan ke lokasi yang lebih aman.
“Prioritas kami adalah memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan, terutama bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, bayi, lansia, serta warga yang sakit di lokasi pengungsian,” katanya.
Saat ini, kata dia, tim Dinas Kesehatan masih mendata lanjutan untuk memastikan tingkat kerusakan fasilitas kesehatan serta menghitung kebutuhan anggaran rehabilitasi dan perbaikan.
“Kami berharap dukungan dari pemerintah provinsi maupun pusat agar perbaikan fasilitas kesehatan dapat segera dilakukan, sehingga pelayanan kepada masyarakat bisa kembali normal,” kata Murhaban.
Menurut data sementara, banjir di Aceh Timur berdampak pada 288.311 jiwa dari 80.919 keluarga yang tersebar di 444 gampong atau desa di 24 kecamatan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 20.537 jiwa dari 5.241 keluarga mengungsi yang tersebar di 52 titik.
Murhaban menjelaskan, pihaknya telah mengerahkan tenaga medis untuk pelayanan kesehatan keliling, pemeriksaan kesehatan pengungsi, serta penanganan penyakit yang berpotensi muncul pascabanjir, seperti diare, infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), penyakit kulit, dan demam.
“Kami juga terus berkoordinasi dengan puskesmas setempat, rumah sakit, serta lintas sektor untuk memastikan ketersediaan obat-obatan dan alat kesehatan tetap terpenuhi,” kata Murhaban. (Red)
Dikutip dari Berita Nasional
