
Jakarta .Indotrans.web.id|| Pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi menilai kebijakan suku bunga tinggi di duga akan tetap berlanjut , dikatakannya tekanan terhadap rupiah dipicu penguatan indeks dolar AS serta memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah yang ikut mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Kebijakan suku bunga tinggi kemungkinan besar akan berlanjut, dan ini bisa mendorong indeks dolar ke sekitar 101,10, dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih melemah
“Pada pembukaan pasar hari Rabu, kemungkinan besar rupiah akan kembali melemah. Dan menurut saya pekan depan berada di level Rp17.050,” kata Ibrahim Assuaibi, dilansir dari detikcom.
Pada perdagangan sesi awal pada pembukaan mencapai 17000 pada hari senin 23/3/2026, bahkan rupiah tersebut berpotensi menyentuh level Rp,17.050 per dolar AS pada hari pertama perdagangan.
Lebih lanjut Ibrahim Assuaibi mengatakan, tekanan terhadap rupiah dipicu penguatan indeks dolar AS serta memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah yang ikut mendorong kenaikan harga minyak dunia , dan kecenderungan oleh dorongan banyak bank sentral di berbagai negara yang masih mempertahankan suku bunga tinggi.
Ia menilai, bahkan ada negara seperti Australia yang justru memilih menaikkan suku bunga di tengah kekhawatiran inflasi akibat lonjakan harga energi. Sementara itu, harga minyak mentah Brent yang menjadi acuan global diperkirakan bergerak di kisaran US$113 hingga US$116 per barel.
Di sisi lain, ia menilai pemerintah bersama Bank Indonesia sebenarnya telah melakukan sejumlah langkah untuk menahan tekanan terhadap rupiah. Salah satunya melalui intervensi lewat transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar internasional dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.
Selain itu, pemerintah juga disebut berupaya menjaga disiplin fiskal melalui efisiensi anggaran, agar defisit tetap berada di bawah batas 3% sesuai ketentuan.
Namun begitu, menurut Ibrahim, tekanan dari faktor global masih jauh lebih dominan, terutama akibat kenaikan harga minyak dunia yang berimbas pada beban impor bahan bakar minyak.
“Secara domestik sebenarnya pemerintah dan Bank Indonesia sudah sangat berhati-hati untuk menjaga agar rupiah bisa kembali menguat. Tetapi tekanan eksternal memang sangat besar, apalagi yang berkaitan dengan impor bahan bakar minyak,” tuturnya ( Red / Anggi Saputra Perwakilan Jawa barat )
