
Boyolali .Indotrans.web.id || – Program MBG ( Makan Bergizi Gratis ) adalah program yang sangat realistis yang mempunyai daya multiplier effect yang signifikan menggerakkan ekonomi masyarakat , dan terbukti dengan serapan 1 juta orang bekerja dari 20419 SPPG dari sabang sampai Merauke kata Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN, Dadang Hendrayudha, sama temu kangen awal tahun 2026 dalam rangka kilas balik 1 tahun MBG Soloraya di Kali Pepe Land Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (16/1/2026)
“Sampai hari ini secara nasional jumlah dapur dari Sabang sampai Merauke sudah mencapai 20.419. Berarti secara tidak langsung sudah membuka lapangan pekerjaan hampir 1 juta lebih,” kata Dadang
Menurutnya SPPG tersebut sudah melayani 50 juta lebih penerima manfaat yang, terdiri dari siswa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Kanak-kanak (TK), SD, SMP, SMA hingga balita, ibu hamil dan menyusui, dan terutama Badan Gizi Nasional (BGN ) mensyaratkan semua SPPG harus memiliki Sertifikat Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS). Selain makanan yang diberikan kepada penerima manfaat harus higienis.
Dikatakannya dapur SPPG telah mempunyai pembuangan limbah yang memenuhi standar. “Dan yang paling penting , mereka kita persyaratkan punya SLHS.yang memenuhi standar kita,” tambahnya. Dadang menyebut bahwa secara nasional jumlah SPPG ada sebanyak 20.419 SPPG
Disisi lain , penerima manfaat makin bertambah , bukan hanya balita, PAUD sampai dengan SMA, tapi ibu hamil, dan Ibu menyusui juga menjadi perhatian kita , dan sekarang sudah diperluas lagi kepada Tendik (tenaga pendidik) ” jadi guru dan lainya akan menerima,” kata Dadang
Kendatipun program baru dari Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto banyak dikritik , namun dengan perbaikan manajemen dan perbaikan pelayanan yang terus menerus di evaluasi , ditahun 2026 ini, BGN memastikan program MBG berjalan dengan baik.
Dengan dukungan anggaran, dan kualitas dapur yang makin membaik , dan kecukupan gizi memberikan dampak luas kepada dukungan masyarakat. Sebab program ini tidak hanya memberikan lapangan pekerjaan, tapi juga menaikkan perekonomian di masyarakat.
“Dengan berjalannya waktu dan evaluasi berdasarkan kondisi yang ditemukan di lapangan, kita akan terus memperbaikinya ” katanya .
Alhamdulillah nanti tahun 2026 ini sesuai dengan dukungan anggaran, tentunya kualitas infrastruktur , kualitas dapur akan tambah bagus, dan kecukupan gizi juga bagus , yang tentunya berpengaruh kepada multiplier effect,” kata Dadang.
Disinggung dapur SPPG yang bermasalah, kata Dadang ditutup sementara untuk dilakukan evaluasi tata kelolanya. Tapi Dadang tidak mengetahui persis jumlahnya. “Kita tutup, kita evaluasi. Kenapa kok bisa seperti itu ya. Saya kurang tahu persis ya. Tetapi yang ada permasalahan kita tutup sementara dan kita evaluasi tentang tata kelolanya,”
Secara filosofis Dadang mengatakan MBG bukan hanya sekadar bisnis. Tapi juga kemanusiaan. Program MBG memberi dampak luar biasa bagi perekonomian dan masyarakat di sekitar dapur SPPG.
“Saya berharap ibu-ibu, yayasan, maupun mitra ini (MBG) bukan hanya bisnis. Jadi uang yang bapak/ibu miliki investasikanlah untuk mendukung program MBG dan hasilnya bisa dirasakan adik-adik , dan yang penting bukan hanya sekadar dapur dan bisnisnya saja saja .tapi menyangkut hidup orang ,” himbaunya .
Terkait MBG di bulan Ramadhan , Dadang mengatakan , Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) atau dapur umum program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap beroperasi
Namun belum mengetahui detail pelaksanaan MBG selama bulan puasa Ramadan sebab bukan kewenangannya. Tapi dirinya memastikan peserta didik tetap mendapatkan MBG selama bulan Ramadan. “Puasa tetap ya, ini bukan wilayah saya. Tapi bentuknya nanti apakah (menu) kering atau apa nanti kita lihat,” kata Dadang
Menurutnya BGN masih menyiapkan petunjuk dan teknis MBG selama puasa Ramadan.
“Teknisnya nanti ya diharapkan tetap ada (MBG) pada saat mereka masuk ya,” ungkap Dadang.
( gus verlian jawa temgah / rel )
