
Jakarta, Indotrans.web.id || Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menyentuh level Rp 17.601 per dolar Amerika Serikat (AS) di Jumat, 15 Mei 2026. Pelemahan ini dipengaruhi sejumlah faktor eksternal, mulai dari meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, kenaikan harga minyak dunia, hingga kuatnya data ekonomi AS.
Analis pasar uang sekaligus Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, menjelaskan bahwa penguatan indeks dolar AS menjadi salah satu penyebab utama melemahnya rupiah. Menurutnya, kondisi tersebut dipicu oleh memanasnya hubungan AS dan Iran yang meningkatkan kekhawatiran pasar global.
“Selain gejolak di Timur Tengah dan harga minyak yang masih tinggi, data ekonomi AS yang tetap solid juga membuat peluang penurunan suku bunga oleh bank sentral AS tahun ini semakin kecil,” ujar Ariston.

Ia menambahkan, penguatan dolar AS turut didorong oleh ekspektasi pasar terhadap hasil pertemuan Presiden AS dan Presiden China. Harapan terhadap perkembangan hubungan kedua negara tersebut memengaruhi arus modal global dan membuat investor lebih memilih aset berbasis dolar dibandingkan aset berisiko di negara berkembang.
Di sisi lain, situasi geopolitik kawasan turut memperbesar tekanan terhadap mata uang emerging market, termasuk rupiah. Ketegangan di Timur Tengah, negosiasi antara AS dan Iran, serta isu klaim kedaulatan di Selat Hormuz menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dunia.
Pelaku pasar pun cenderung mengambil sikap wait and see sambil mencermati perkembangan diplomatik dan arah kebijakan ekonomi global dalam beberapa waktu ke depan. (Leni)
